Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Delapan mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) peserta mata kuliah Complementary and Alternative Therapy (CAT), bersama satu mahasiswa S1 Keperawatan yang tergabung dalam tim pengabdian kepada masyarakat, menggelar praktik terapi Sujok di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Senin (24/8) usai salat Dzuhur. Kegiatan yang diikuti 42 peserta, terdiri atas jamaah masjid dan masyarakat umum dari luar wilayah setempat, merupakan bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat UGM tahun 2026 yang mengintegrasikan aspek penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.
Praktik ini menjadi bagian dari pembelajaran CAT sekaligus wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan keterampilan terapi Sujok secara langsung kepada masyarakat. Kegiatan didampingi sekaligus dibimbing oleh Dr. Janatin Hastuti, S.Si., M.Kes., PhD., dengan koordinasi mata kuliah CAT oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD. Melalui integrasi tersebut, kegiatan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran dan pengabdian, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari penelitian dan publikasi hasil pengabdian. Masjid Jogokariyan dipilih sebagai salah satu lokasi kegiatan karena memiliki respons yang baik terhadap kegiatan serupa, didukung jumlah jamaah yang besar, latar belakang peserta yang beragam, serta keterbukaan pengurus terhadap kegiatan pengabdian masyarakat.
Dr. Janatin Hastuti menilai pelaksanaan terapi berjalan lancar dan tertata, dengan respons peserta yang baik serta keterlibatan mahasiswa terapis yang optimal.
“Masjid Jogokariyan termasuk salah satu lokasi pengabdian yang sering dipakai karena responsnya cukup bagus, baik dari manajemen masjid maupun peserta.” — Dr. Janatin Hastuti, S.Si., M.Kes., PhD.
Respons peserta terhadap terapi yang diberikan cukup beragam. Beberapa peserta menyampaikan bahwa setelah terapi, nyeri yang dirasakan berkurang, bahu yang sebelumnya sulit digerakkan terasa lebih ringan dan dapat digerakkan, serta tubuh terasa lebih rileks dan nyaman. Peserta lain juga menyampaikan bahwa keluhan berupa kram mulai terasa lebih baik. Namun, tidak semua peserta merasakan perubahan yang sama, beberapa menyampaikan bahwa kondisi mereka terasa biasa saja atau tidak mengalami perubahan setelah terapi. Hal ini menunjukkan bahwa respons terhadap terapi dapat berbeda pada setiap individu dan perubahan tidak selalu dirasakan setelah satu kali sesi.


Keberagaman respons tersebut menjadi pengalaman penting dalam pelaksanaan terapi komplementer. Liza Uswatun Husna, S.ST, pengurus unit kesehatan Masjid Jogokariyan, menyampaikan bahwa berdasarkan testimoni warga, sebagian peserta merasakan keluhannya berkurang dan tertarik melanjutkan terapi, sekaligus memperoleh edukasi untuk melakukan terapi secara mandiri di rumah bila keluhan muncul kembali.
Antusiasme masyarakat terlihat dari adanya peserta yang kembali mengikuti kegiatan setelah sebelumnya merasakan manfaat terapi. Peserta juga tidak hanya berasal dari sekitar masjid, tetapi sebagian merupakan pengunjung dari luar kota. Dalam kegiatan ini, mahasiswa turut belajar pentingnya edukasi bahwa Sujok merupakan terapi komplementer yang tidak menggantikan terapi medis, dengan respons yang dapat berbeda pada setiap individu. Aspek keamanan dijaga melalui pengamatan, pemantauan, dan pembimbingan oleh Dr. Janatin agar mahasiswa bekerja sesuai kompetensi serta berkoordinasi ketika membutuhkan arahan lebih lanjut.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada satu kali pelaksanaan. Untuk Masjid Jogokariyan, Dr. Janatin berharap kegiatan dapat berlanjut dengan koordinasi dan manajemen yang lebih baik antara tim mahasiswa dan pengurus masjid. Masyarakat juga diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan terapi Sujok secara mandiri di rumah, disertai tindak lanjut dan evaluasi berkala. Sejalan dengan itu, Liza Uswatun Husna menilai keluhan yang dekat dengan keseharian masyarakat, seperti gangguan lambung dan nyeri, menjadi salah satu hal menarik dari kegiatan ini. Ia berharap pengabdian serupa memiliki tindak lanjut agar masyarakat yang merasakan manfaat dapat kembali memperoleh pendampingan.
Bagi mahasiswa, integrasi pembelajaran CAT dengan pengabdian kepada masyarakat menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan secara langsung. Sementara bagi masyarakat, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengenal terapi Sujok dan memperoleh pengalaman langsung mengenai terapi komplementer. Keberlanjutan hubungan tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat kontribusi pembelajaran akademik agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di lingkungan kampus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tentang Tim Pengabdian Masyarakat Sujok UGM
Tim Pengabdian Masyarakat Sujok UGM merupakan tim mahasiswa Magister Keperawatan yang melaksanakan kegiatan terapi Sujok sebagai bagian dari pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat melalui mata kuliah Complementary and Alternative Therapy (CAT). Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan terapi komplementer secara langsung di masyarakat dengan pendampingan dosen.
Kontak:
Email: sujokpsik2026@gmail.com
Instagram: @sujokugm






